HeadlineNews

Didukung Kesiapan Stok Pangan, Inflasi Lebaran Cuma 0,07 Persen

0

Jokoway ― Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan inflasi lebaran yang jatuh pada Mei lalu, cuma 0,07 persen. Angka ini tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan inflasi Ramadan dan lebaran di tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Kepala BPS Suhariyanto, ada berbagai faktor yang menyebabkan angka inflasi ini sangat rendah. Kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi permintaan pangan di kala lebaran, disebutnya menjadi salah satu faktor pendukung.

Selain itu, harga bahan pokok yang relatif stabil juga menyebabkan inflasi menjadi rendah. “Pemerintah sudah bersiap jauh-jauh hari sehingga pasokan pangan pada Mei lalu relatif terjaga,” ungkap Suhariyanto melalui konferensi pers, Selasa (2/6).

Kendati begitu, lanjut dia, Ramadan dan lebaran yang berbarengan dengan masa pandemi Covid-19, juga turut menyebabkan penurunan permintaan akan barang.

Penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai wilayah, turut memengaruhi tingkat pendapatan dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi ini menyebabkan aktivitas belanja masyarakat juga jadi ikut menurun.

Sekadar membandingkan, inflasi lebaran yang tercatat pada Juni 2019 lalu mencapai 0,55 persen. Akibat angka inflasi pada Mei 2020 ini sangat rendah, maka situasi ini juga memengaruhi inflasi secara tahunan. “Akibatnya inflasi tahunannya juga rendah, cuma 2,19 persen dibandingkan inflasi tahun lalu yang mencapai 2,67 persen,” tuturnya.

Di tengah pandemi global Covid-19 yang juga berbarengan dengan bulan suci Ramandan dan lebaran 2020, pemerintah memang terus menegaskan akan menjamin dan memenuhi barang kebutuhan pokok (bapok) masyarakat dengan harga yang juga terjangkau.

Kementerian Perdagangan, misalnya, menjalankan berbagai strategi untuk memenuhi target tersebut. Langkah itu antara lain:

Pertama, melakukan relaksasi pembebasan izin impor bawang putih dan bawang bombai untuk memenuhi pasokan di dalam negeri. Seiring dengan masa pandemi, harga kedua komoditas ini sempat melambung tinggi. Namun melalui langkah relaksasi, kini harga bawang putih dan bawang bombai telah kembali normal.

Kedua, menerbitkan persetujuan impor gula konsumsi, realokasi stok gula industri, menerbitkan persetujuan impor gula kristal putih, dan realokasi stok gula rafinasi untuk menjaga ketersediaan gula di pasaran.

Ketiga, melakukan penindakan terhadap pelaku usaha yang kedapatan mematok barang kebutuhan pokok kelewat tinggi.

Keempat, melakukan pengawasan distribusi bahan pangan yang beredar di pasaran.

Kelima, berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Bulog untuk bersama-sama mengecek harga dan pasokan sekaligus melakukan stabilisasi harga barang kebutuhan pokok seperti beras, gula pasir, serta daging beku.

Keenam, menggencarkan operasi pasar gula di berbagai daerah di Indonesia untuk meredam harga yang sempat melonjak. (MET)

RS Darurat Covid-19 Milik Pertamina Rampung Dibangun Sebulan

Previous article

Menilik Isi Fasilitas RS Darurat Covid-19 Milik Pertamina

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Headline