HeadlineNews

Dua Tandan Pisang Tarno untuk Presiden Jokowi

0

Jokoway ― Empat tahun sudah, Tarno, 54 tahun, menyimpan nazar: jika Joko Widodo alias Jokowi terpilih sebagai presiden, ia hendak mengantarkan pisang hasil panennya ke Istana.

Sehari-hari Tarno, warga Dusun Slatri, Desa Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, itu memang berprofesi sebagai pedagang pisang.

Merasa terlalu lama memeram nazar, kadang jika badannya terasa meriang, Tarno teringat lagi kepada janji yang belum ditunaikannya tersebut.

Hingga ketika akhirnya pisang ambon di kebunnya berbuah lebat, ia membulatkan tekad. Harus berangkat ke Ibu Kota.

Empat bulan lamanya Tarno merawat pisang dengan hati-hati, memberi pupuk, membersihkan dari hama yang setiap saat bisa menyergap sang pohon. Kepada para tetangga, ia selalu bilang, pisang dipersiapkan untuk Presiden Jokowi.

Begitulah. Niatnya tak terbendung lagi. Demi nazar yang pernah diucapkanya, Tarno nekat ke Jakarta, menyerahkan dua tandan pisang hasil panenan terbaiknya untuk presiden Indonesia.

Rabu, 24 Oktober 2018, tepat pukul 10.00, dengan motor bebek butut kesayangannya, Tarno berangkat dari kampung menuju Jakarta.

Dilepas dengan rapalan doa, disertai dukungan kepala desa serta para tetangga, dua tandan pisang ambon berukuran besar dipasang bertengger di jok belakang motor. Selembar kertas bertuliskan: Insyaalloh nazare aku ketemu pak Presiden bisa kasembadan atau Insyaalloh nazar untuk bertemu pak Presiden bisa tercapai, ia tempel di motor.

Bendera Merah Putih juga terlihat diletakkan di belakang motor. Sehelai kertas lagi bertuliskan: Nyong wong Banyumas, pengen nemen ketemu Pak Jokowi atau Saya orang Banyumas, sangat ingin ketemu Pak Jokowi, juga terlihat menghiasi motor. Tak lupa poster bergambar Presiden Jokowi turut menghiasi motornya.

Sepanjang jalan, banyak warga memberikan semangat kepada Tarno. Ada pula yang mencoba menawar pisangnya dengan harga mahal. “Sudah, enggak usah ke Jakarta. Saya beli saja pisangnya,” begitu seloroh orang yang menawar.

Tarno bergeming. Dibayar berapa pun, pisang tak bakal ia lepas. “Ini untuk pak Jokowi,” tegasnya.

Melihat perjuangan Tarno, sepanjang jalan banyak orang yang menolongnya. “Saya yang tak tahu lor-kidul Jakarta, diarahkan, dibantu sampai bisa menuju Istana,” ungkap Tarno.

Kamis, 25 Oktober, pukul 13.00, Tarno yang memakai sandal jepit berwarna hijau tiba di depan Istana Merdeka.

Sayang, harapannya untuk bertemu Presiden Jokowi belum kesampaian. Kala itu, kebetulan Presiden Jokowi tengah bertugas ke Samarinda.

Staf kepresidenan menjanjikan, pisang Tarno akan diantarkan ke kediaman Presiden Jokowi, di Istana Bogor.

Sedikit kecewa, tapi Tarno bisa memaklumi. “Kemarin saya sempat membayangkan, kalau sampai Istana diusir pun tidak apa-apa. Yang penting pisang saya sampai. Nazar sudah saya tunaikan,” tuturnya.

Ternyata, dugaan Tarno meleset. Ia dipersilakan masuk, disambut dengan ramah oleh staf kepresidenan bahkan diajak berkeliling Istana. “Sambutannya sangat baik. Saya diopeni, diajak duduk di sofa. Perlakuan yang sama sekali tidak saya bayangkan,” kata Tarno lagi.

Apa sih yang diinginkan Tarno kalau ketemu Presiden Jokowi?

Saya pengen banget kepanggih bapak Jokowi. Saya pengen bisa salamam, cium tangan dan foto. Dan, menyampaikan dukungan, pak Jokowi harus lanjut dua periode,” tegasnya.

Dikisahkan Tarno, kini desanya kian berkembang bagus dan maju. Dusun Slatri, 35 km dari Kota Purwokerto, bertahun-tahun lalu adalah desa yang terisolir. Jalannya berbukit-bukit dan tidak beraspal.

Kini, perkembangan desa cukup pesat. Jembatan dibangun, jalanan diaspal. Dusun Slatri sudah seperti kota baru. “Harga murah, enggak seperti yang diomongkan. Sekarang juga sudah ada Kartu Indonesia Sehat. Pak Jokowi benar-benar bekerja. Mikirno (memikirkan) wong cilik. Nyong sebagai wong cilik, ya, harus Jokowi lagi. Pokoke nyong sampe pendheng (gepeng) tetap pak Jokowi,” katanya memberi alasan.

Tarno mengaku mengidolakan Jokowi sejak ia menjadi gubernur DKI Jakarta. Saat pilpres 2014, ia pun tak ragu memilih Jokowi. “Lihat di teve pak Jokowi dihina-hina, dikatai ndeso. Nyong juga melihat pak Jokowi kok merakyat banget. Nyong akhirnya mantap pilih Pak Jokowi,” tutur dia.

Kini, Tarno telah kembali ke Dusun Slatri. Meski tak berhasil bertemu Jokowi, yang penting nazar telah ia tunaikan.

Sepulang dari Jakarta―dengan naik kereta api bersama sepeda motornya―ia cuma bisa sedikit beristirahat. Tetangga sekitar dan para pedagang di pasar langsung mengerubungi Tarno, ingin mendengarkan kisahnya.

Semua bertanya tentang pengalamannya sampai Istana Merdeka. “Banyak yang terharu. Ada yang nangis. Nyong wong ndeso kok bisa sampai Istana. Nyong senang sekali. Karena tak semua orang berani melakukan ini,” kata Tarno saat dihubungi melalui telepon genggam kepala dusun. (MOH)

Sambil Berdiri di Atas Truk, Jokowi Resmi Bebaskan Tarif Jembatan Suramadu

Sebelumnya

TGB: Jokowi Konsisten, Terukur dan Tidak Suka Berwacana

Selanjutnya

Tulisan lainnya

Komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tema lainnya: Headline