AnalisisHeadline

Ekonomi Tumbuh 5,17 Persen, Indonesia Tiga Besar Setelah China dan India

0

Jokoway – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, meskipun dalam empat tahun ini ekonomi global sedang dalam posisi yang tidak baik, turun, pasar-pasar komoditas juga mengalami penurunan, tapi Indonesia wajib bersyukur karena di 2018 ekonomi masih tumbuh di angka 5,17 persen.

Pertumbuhan terjadi pada seluruh lapangan usaha. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha jasa lainnya sebesar 8,99 persen; diikuti jasa perusahaan sebesar 8,64 persen; dan jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 7,13 persen.

Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 tertinggi berasal dari lapangan usaha industri pengolahan sebesar 0,91 persen; diikuti perdagangan besar-eceran, reparasi mobil-sepeda motor sebesar 0,66 persen; konstruksi sebesar 0,61 persen; pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 0,50 persen; dan informasi dan komunikasi sebesar 0,36 persen.Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia dari lapangan usaha lainnya sebesar 2,14 persen.

Struktur PDB Indonesia menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada 2018, tidak menunjukkan perubahan berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh lapangan usaha industri pengolahan sebesar 19,86 persen; diikuti oleh perdagangan besar eceran, reparasi mobil-sepeda motor sebesar 13,02 persen; pertanian, Kehutanan dan perikanan sebesar 12,81 persen; dan konstruksi sebesar 10,53 persen. Peranan keempat lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Indonesia mencapai 56,22 persen.

Menurut Jokowi saat memberikan sambutan pada Peresmian dan Penyerahan Penghargaan Pasar Rakyat Indonesia, serta Pembukaan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan, di Hall 3A ICE BSD, Kabupaten Tangerang, 12 Maret lalu, banyak negara yang tidak bisa mempertahankan pertumbuhan ekonominya sehingga terjun ke bawah 1 hingga 2 persen saja.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga menyerahkan penghargaan kepada 14 pasar dengan kategori pasar revitalisasi terbaik, pasar ramah lingkungan, pasar ramah orang berkebutuhan khusus, dan pengelola pasar terbaik.

Jika dibandingkan dengan negara-negara Group 20 (G20), menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih nomor tiga di bawah India dan China. “Ini patut kita syukuri,” ujar Jokowi.

Selain itu, Jokowi menjelaskan, jika dibandingkan pada 2014 yang berada di angka 8,3 persen lebih, inflasi Indonesia terus-menerus turun pada angka 3,3 persen, 3,02 persen, 3,61 persen, kemudian di 2018 berada pada angka 3,13 persen. “Artinya, pengendalian harga bisa dilakukan,” katanya.

Jokowi menilai, stabilisasi harga melalui operasi pasar yang dilakukan oleh Bulog telah berjalan efektif. Ia melihat, kenaikan harga masih terjadi, seperti halnya satu atau dua barang saja namun masih dapat dikendalikan, sehingga pengawasan dan pengendalian harga perlu dilakukan karena berpengaruh kepada inflasi.

Pada setiap kunjungan kerja yang dilakukan ke berbagai daerah, Jokowi selalu berkunjung dan melihat langsung ke pasar-pasar grosir dan tradisional. Misalnya ketika melakukan kunjungan kerja ke Tulungagung, 4 Januari lalu, ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke Pasar Grosir Ngemplak.

Jokowi mengatakan, pantauan harga langsung ke pasar perlu dilakukan, apalagi pemerintah terus bertekad untuk mengendalikan harga pangan. Jokowi menilai, stabilisasi harga melalui operasi pasar oleh Bulog sangat membantu masyarakat untuk mendapatkan bahan-bahan pokok yang lebih terjangkau. Cara ini dianggap efektif karena adanya pengawasan terhadap harga.

Masih menurut Jokowi, jika ada yang menyampaikan harga-harga naik, kalau satu-dua barang, itu biasa. Tapi secara rata-rata, Jokowi juga mengingatkan teori ekonomi, bahwa inflasi itu ya mengendalikan harga.

Sementara, pengendalian harga pasar juga turut dilakukan oleh Kementerian Perdagangan. Misalnya pada saat menjelang Natal 2018 dan tahun baru 2019, Kementerian Perdagangan menyiapkan beberapa langkah untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Jasa Kementerian Perdagangan, Lasminingsih mengatakan, langkah tersebut terdiri dari penguatan regulasi, rakor bersama pemerintah daerah, dan memastikan pasokan tercukupi di pasar-pasar.

Langkah pertama dilakukan dengan penerbitan Permendag terkait, di antaranya: pendaftaran pelaku usaha bapok (Permendag 20/2017), harga eceran tertinggi (HET) beras melalui Permendag 57/2017, serta harga acuan di konsumen melalui Permendag 96/2018.

Adapun dalam rakor dengan pemerintah daerah, Kemendag meminta seluruh provinsi melaporkan perkembangan harga harian di pasar untuk mengantisipasi potensi kenaikan permintaan bahan pokok.

Selanjutnya, langkah ketiga dilakukan dengan memantau dan mengawasi harga pangan di pasar lewat kerja sama eselon I Kemendag dan Satgas Pangan di seluruh wilayah Indonesia. Langkah ini, menurutnya, untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga, termasuk menjamin pendistribusian bahan pokok. (ANS)

Jokowi Geram Atas Aksi Penembakan di Masjid Al Noor Selandia Baru

Sebelumnya

Rilis Video Klip “Bareng Jokowi”, Slank: Dia Hidupkan Api Semangat untuk Indonesia

Selanjutnya

Tulisan lainnya

Komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tema lainnya: Analisis