HeadlineNews

Filosofi Batik Godhong Kates Jokowi

0

Jokoway – Di antara berbagai motif kemeja batik yang pernah dikenakan Joko Widodo (Jokowi), salah satu yang fenomenal adalah batik godhong kates atau daun pepaya.

Batik berwarna cerah: hijau, kuning dan jingga itu dikenakan Jokowi saat maju sebagai calon walikota Solo, berpasangan dengan F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakilnya.

Daun pepaya, jelas Jokowi, merupakan simbol rasa pahit yang membawa kesembuhan. Ada banyak manfaat kesehatan yang bisa diperoleh dari daun pepaya. Orang pun rela merasakan pahitnya daun pepaya demi mendapatkan kesembuhan.

Filosofi itulah yang dibawa Jokowi saat berkampanye di Solo. “Solo harus mau melakoni perjuangan yang mungkin diwarnai kepahitan untuk mengobati ‘penyakit-penyakit’ di tubuhnya,” terang Jokowi dalam buku Menuju Cahaya yang ditulis Albhertiene Endah.

Sebelum batik godhong kates ini dipilih, sempat muncul usulan agar Jokowi mengenakan batik bermotif wahyu tumurun. Namun saat difoto, motif tersebut kelihatan suram. Atas dasar itulah, Jokowi lantas memilih motif godhong kates yang memiliki filosofi kuat.

Mengusung semangat tersebut, Jokowi bertekad membenahi Solo. Yang keliru direvisi, yang rusak diperbaiki.

Semua itu, ungkap Jokowi, memang akan melelahkan, merepotkan dan tentunya pahit. Namun ada tujuan yang ingin digapai dari langkah tersebut: membuat keadaan menjadi semakin baik.

“Filosofi godhong kates inilah yang saya serukan sepanjang kampanye sambil saya mengenakan kemeja batik bermotif godhong kates,” tutur Jokowi.

Hasilnya, Jokowi sukses memenangkan pilkada Solo. Bahkan pada pilkada 2010, ia berhasil meraup 90,09 persen suara.

Kota berjuluk “Spirit of Java” ini kian berbenah maju di bawah kepemimpinan Jokowi. Di kampung halamannya, ia dikenang sebagai pemimpin yang sukses membawa perubahan.

Bagi Jokowi yang dipasangkan dengan F.X. Hadi Rudyatmo sejak pilkada Solo 2005, terjun dalam gelanggang politik merupakan pengalaman yang benar-benar baru. Hal ini, diakuinya, sempat mengguncang emosinya.

Ketika itu ia merasakan surprise yang luar biasa. Di sekujur kota, Jokowi melihat orang-orang berseru memanggil namanya dan bersorak-sorai. “Ada rasa kaget, geli, haru, juga takjub. Inilah yang namanya kampanye,” ungkapnya.

Dengan dana kampanye yang tergolong cekak, kala itu tak mungkin dia menggelar panggung pertunjukan atau pawai besar-besaran di ruas-ruas jalan kota yang akan menyedot banyak uang.

Dibantu banyak orang, termasuk Anggit Noegroho–yang kini menjadi sekretaris pribadinya setelah menjadi presiden–Jokowi mencari model kampanye yang murah, sederhana, namun efektif.

Dari diskusi dengan mantan jurnalis Solopos itulah, Jokowi menegaskan ingin berkampanye dengan mengenakan pakaian yang memiliki nilai-nilai filosofis. Salah satunya, ya itu tadi, memilih batik motif godhong kates untuk berkampanye.

Hari ini, Selasa, 2 Oktober 2019, tepat satu dekade United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), memasukkan batik dalam Daftar Perwakilan Warisan Budaya Tak-benda. Pengakuan dari UNESCO inilah yang membuat 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. (SAM)

Jokowi: Pancasila Pemandu Persatuan Indonesia

Sebelumnya

Menanti Pelantikan Presiden Pilihan Rakyat

Selanjutnya

Tulisan lainnya

Komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tema lainnya: Headline