News

Gas Turun Bikin Petrokimia Gresik Hemat Rp 743,97 Miliar

0

Jokoway — Kebijakan penyesuaian harga gas bumi oleh pemerintah turut diapresiasi PT Petrokimia Gresik (Persero). Pasalnya, melalui kebijakan ini, perusahaan mampu menghemat biaya produksi pupuk Rp 743,97 miliar per tahun.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi menyebutkan, penurunan harga ini sangat membantu meningkatkan efisiensi perusahaan.

“Kami tetap optimistis penurunan harga ini sangat membantu meningkatkan efisiensi perusahaan dalam menghadapi persaingan global. Efisiensi ini sejalan dengan program transformasi bisnis yang digalakkan Petrokimia Gresik sejak 2019,” jelas Rahmad melalui keterangan tertulis.

Penurunan harga gas bumi diatur melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 89K/10/MEM/2020 tanggal 13 April 2020 tentang Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri.

Diterangkan Rahmad, gas bumi merupakan bahan baku utama untuk memproduksi pupuk bersubsidi jenis urea, ZA, dan NPK. Porsi gas bumi untuk produksi pupuk urea mencapai 70 persen. Sementara harga gas bumi yang selama ini diperoleh Petrokimia Gresik dari sejumlah pemasok cukup tinggi, rata-rata di angka USD 7,45 per MMBTU (Million British Thermal Units).

Harga USD 7,45 per MMBTU, disebut Rahmad, masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan lain sebagainya.

Dengan adanya beleid anyar dari Kementerian ESDM, Petrokimia Gresik sebagai industri pupuk akan menerima harga gas bumi pada kisaran USD 6 per MMBTU.

“Saat ini, semua proses bisnis sudah pada tahapan paling efektif dan efisien, sehingga harga pokok penjualan produk Petrokimia Gresik menjadi lebih kompetitif,” katanya.

Rahmad juga menyebutkan, penurunan harga gas bumi tidak hanya berdampak pada peningkatan daya saing perusahaaan saja, melainkan dapat dirasakan juga oleh pemerintah melalui efisiensi subsidi.

Semakin kecil harga pokok produksi pupuk, maka anggaran subsidi yang dibayarkan pemerintah kepada Petrokimia Gresik dapat semakin efisien. Apalagi pada tahun 2020 ini, alokasi pupuk bersubsidi yang wajib disalurkan oleh Petrokimia Gresik sebesar 4,1 juta ton atau 52 persen dari total alokasi nasional (7,9 juta ton) yang menjadi tanggung jawab Pupuk Indonesia.

“Pemerintah akan mendapatkan manfaat berupa penghematan anggaran subsidi dalam APBN, atau dapat meningkatkan volume produksi pupuk bersubsidi, atau bisa juga dengan menyesuaikan harga eceran tertinggi (HET) yang terjangkau untuk petani,” terang Rahmad.

Saat ini, Petrokimia Gresik memiliki 31 pabrik (pupuk dan non-pupuk) dengan kapasitas total 8,9 juta ton per tahun. Adapun pabrik yang menggunakan gas bumi sebagai bahan baku sebanyak 15 unit, yaitu dua unit pabrik amoniak (bahan baku Urea) kapasitas produksi 1,1 juta ton per tahun, dua unit pabrik urea kapasitas satu juta ton per tahun, tiga unit pabrik ZA kapasitas 750 ribu ton per tahun, serta delapan unit pabrik NPK kapasitas 2,7 juta ton. (PUT)

Pembangunan Terminal Kijing Tak Terhenti di Tengah Pademi

Previous article

Pulihkan Ekonomi, Pemerintah Luncurkan Penjaminan Kredit Modal UMKM

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in News