News

Isu PKI Bersemi di Masa Pandemi

0

Jokoway — Isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan komunisme tumbuh bersemi di masa pandemi. Jika isu ini biasanya bertebaran menjelang September, kini isu ini hadir lebih cepat di saat banyak orang di negeri ini tengah bahu-membahu meredam persebaran Covid-19.

Mobilisasi massa pun muncul di berbagai kota. Ada yang bikin Apel Siaga Ganyang Komunis, ada pula yang sengaja membawa bendera bergambar “palu arit” lalu membakarnya.

Menurut profesor riset bidang sejarah Asvi Warman Adam, fenomena munculnya kembali isu PKI ini bertujuan untuk kepentingan politik menuju pemilu 2024. Para aktornya, ditengarai adalah mereka yang ingin mengembalikan kejayaan Orde Baru (Orba) di Indonesia.

PDI Perjuangan (PDIP) sengaja menjadi pusat hantaman serangan isu komunisme karena dianggap akan menghambat agenda tersebut.

“Fenomena belakangan ini saya kira berkaitan dengan pilpres 2024. Ketika akan ada pilpres, tentu ada saja pihak-pihak yang berkepentingan dengan isu komunisme ini,” kata Asvi dalam diskusi bertema ‘Ngeri-ngeri Kebangkitan PKI’ yang dipandu sejarawan Bonnie Triyana, Selasa (7/7).

Asvi yang juga sejarawan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menduga, pihak yang memobilisasi isu ini ingin menegakkan kembali kekuasaannya, persis sama dengan cara yang dulu dilakukan Soeharto. Menjadikan komunisme sebagai musuh bersama, sekaligus berpadu dengan kelompok yang ingin menjaga eksistensinya seperti penganut gerakan khilafah.

Makanya tak mengherankan, pada aksi pembakaran bendera PKI, yang membakarnya juga kelihatan memakai bendera dengan simbol yang dekat dengan bendera HTI.

“Mereka ingin memperlihatkan eksistensi sebenarnya, namun juga ingin menghancurkan PDIP. Mereka dengan sengaja ingin menggoyang masyarakat dengan berkata soal kebangkitan PKI,” terang pria kelahiran Buktitinggi, Sumatera Barat itu.

Padahal, faktanya, komunisme sudah punah dengan adanya TAP MPRS yang membubarkan PKI dan melarang ajaran komunisme. Beleid ini bahkan berlaku sejak 1966 dan bertahan hingga saat ini.

Diingatkan Asvi, di era Orba Soeharto, isu PKI dipertahankan untuk kepentingan pemerintah dan rezim yang berkuasa, dengan menghancurkan orang yang bersikap kritis. Isu PKI juga digunakan ketika hendak mengambil tanah rakyat dengan mudah.

“Maka di masa Orba, setiap menjelang 30 September, pasti ada temuan bendera dan kaus PKI. Itu zaman Orba. Sekarang, makin rutin karena ada kelompok kepentingan yang mau angkat isu komunisme itu,” kata Asvi.

Jika gerakan mereka semakin menggema, terang Asvi, itu lantaran perkembangan teknologi informasi namun disertai kurangnya literasi masyarakat dalam menyaring bahan-bahan kampanye yang disebarkan. Informasi sangat mentah dan sumir itu sengaja disebarkan berulang dan terus-menerus. Dan hal itu didukung pula oleh proyek Desoekarnoisasi yang dilaksanakan selama masa berkuasanya Orde Baru. Akumulasi semua hal itu juga yang terjadi dalam polemik pembahasan RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP).

Bonnie lalu mempertanyakan narasi yang sengaja diembuskan bahwa PDIP anti Pancasila, oleh pihak yang selama ini diragukan ke kepancasilaannya.

Menjawab itu, Asvi mengatakan sejak reformasi 1998, makin terasa pentingnya meneguhkan Pancasila, bukan hanya sebagai dasar negara, namun juga pemersatu bangsa. Itulah pentingnya ada lembaga seperti BPIP.

Dan, ketika ada keinginan memperkuat status lembaga ini, lanjut Asvi, maka penentangan akan muncul.

“Ini jelas tujuannya kembali membangkitkan Orba, kembali mengangkat Soeharto sebagai pahlawan penyelamat negara, ingin menjadikan komunisme musuh bersama dalam rangka 2024. Dan salah satu yang mengganggu mereka adalah PDIP. Dan untuk menyerangnya dikaitkanlah komunisme dan Soekarno. Mudah-mudahan rakyat lebih mudah memahami ini dan tak termakan hantu komunisme,” katanya. (NUR)

Jokowi Kejar Target Penyelesaian Tol Trans-Sumatera dan Cisumdawu

Previous article

Begini Modalitas Program PEN Disalurkan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in News