HeadlineLife

Mengembalikan TVRI Sebagai Rumah Musisi Indonesia

0

Jokoway ― Bagi banyak musisi Indonesia, Televisi Republik Indonesia (TVRI) adalah rumah eksposur perdana yang dianggap turut mengantarkan perjalanannya dalam berkarya. Sekadar menyebut contoh, program musik berkualitas seperti Nada dan Improvisasi, Irama Jazz, Pojok Jazz, atau Musik Malam Minggu pernah menghiasi layar TVRI, dan selalu dinantikan para peminatnya.

Sejarah panjang dalam membesut dunia musik inilah yang membuat musisi Indonesia memiliki respek tinggi terhadap TVRI. Karenanya, wajar jika para musisi turut menaruh harapan positif kepada pemimpin barunya untuk bisa mengembalikan TVRI sebagai rumah bagi musisi Indonesia.

Dalam catatan pengamat musik Aldo Sianturi, usia TVRI yang telah membentang tujuh dekade kerap dianggap hanya menyisakan memori kebersamaan para musisi generasi 1970-an dan 1980-an, dan itu pun, telah berangsur-angsur pupus.

Generasi milenial masih gagal paham dengan TVRI dan lebih kagum melihat perkembangan BBC dari Inggris. Nama TVRI, ungkap Aldo, menjadi terasa asing, old-school, dan terpencil bagi mereka yang punya banyak pilihan konten di zaman digital. Meski nama stasiun ini sering naik-turun di jagad media, tetapi hal itu bukan imbas dari kelahiran program musik yang spektakuler.

Namun, musikus Yovie Widianto tetap yakin, TVRI masih punya banyak peluang untuk makin memajukan musik Indonesia. Untuk itu perlu dibangun komunikasi yang baik agar dapat berbicara kepada semua tokoh yang berkepentingan.

Hal yang sama diungkapkan musikus senior Idang Rasjidi yang mengaku memiliki kedekatan dengan TVRI. “Kami tentu sangat terbuka untuk melakukan diskusi terbatas dengan Direktur Utama TVRI, pak Iman Brotoseno. Saya berharap beliau mau membuka diri dan mendengar masukan secara langsung dari kami,” ujarnya.

Musikus Ananda Sukarlan juga mengharapkan, TVRI tidak pilih kasih dalam menayangkan genre musik yang berbeda, lebih variatif, termasuk yang tidak begitu populer. TVRI, kata dia, juga bisa menayangkan musik yang “tersisihkan”, terutama musik-musik daerah dalam versi asli. “Dalam musik klasik, saya bisa klaim bahwa kita sudah memapankan identitas musik klasik Indonesia. Salah satu buktinya adalah Rapsodia Nusantara yang sudah dimainkan oleh ratusan pianis di seluruh dunia. Bahkan ada anak Amerika usia 10 tahun yang menang kompetisi karena Rapsodia Nusantara,” kata Ananda.

Bongky dari kelompok musik BIP menyatakan, TVRI memang mutlak harus melakukan revolusi brand. Langkah itu perlu dilakukan agar mampu mengundang kembali minat para penontonnya. Bimbim, penabuh drum Slank, juga berharap TVRI bisa menjadi corong musik Indonesia ke belahan penjuru dunia. Untuk menyikapi keterbatasan anggaran, TVRI masih bisa membuat program yang tidak terlampau mahal. “Konser-konser live artis Indonesia dari zaman dulu sampai sekarang ditayangkan saja secara bergantian. Slank saja banyak, tuh,” tuturnya.

Sementara bagi Once, mantan vokalis Dewa, TVRI memiliki keunggulan dalam hal luas jangkauan dan inventaris, serta sumberdaya manusia. Studio milik TVRI yang berada di luar Jakarta juga bisa dioptimalkan. TVRI ditantang untuk membuat program-program yang lebih populer dinamis, namun juga tetap berpihak pada idealisme musisi Indonesia.

Percampuran warna musik lokal dan internasional dengan menampilkan karya-karya musik Indonesia yang original dan unik, program penghargaan musik yang menghibur tapi tetap sopan, bisa menjadi langkah yang diupayakan oleh TVRI. Selain itu, “TVRI harus memiliki kekuatan di bidang new media sehingga lebih bisa diakses kapan saja dan di mana saja,” sambungnya.

Musikus muda seperti Dul Jaelani juga berharap TVRI bisa terus memproduksi acara musik yang berbeda, menghibur, dan tidak membosankan. Namun tentu saja dengan produksi sound yang bagus serta mengundang musisi dan band-band yang juga oke. (NUR)

Menilik Isi Fasilitas RS Darurat Covid-19 Milik Pertamina

Previous article

Mewujudkan Mimpi Pekerja Punya Rumah Sendiri

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Headline