AnalisisHeadline

Mereka yang Berkhayal Kemenangan Prabowo Dirampas

0

Oleh: Rofiq Al Fikri (Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu)

Beredar tulisan dari orang yang mengaku bernama Prof. KH. Didin Hafiddudin, MA (dikatakan ia adalah Guru Besar UIKA dan Dewan Penasihat ICMI) yang isinya menjelaskan bahwa kemenangan Prabowo dirampas. Tentu tulisan itu konyol, karena faktanya hingga saat ini rekapitulasi resmi KPU Jokowi unggul lebih dari 14 juta suara dari Prabowo.

Selisih yang sangat jauh itu terlampau tidak masuk akal jika masih ingin percaya Prabowo menang. Lantas seperti apa khayalan Prof Didin dan para pendukung Prabowo yang menyebut kemenangan Prabowo dirampas? Mari kita jawab satu per satu tuduhan mereka.

1. Mereka bilang, KPU berani ambil risiko besar. Mereka tidak takut akibat manipulasi perolehan suara capres-cawapres 02. Dengan enteng mereka jawab “salah ketik”, human error. Boleh dikatakan mereka tak peduli teriakan-teriakan keras publik terhadap input angka-angka yang merugikan Prabowo dan menguntungkan Jokowi.

Fakta: Input data ke situng yang salah akibat human error justru lebih banyak yang menguntungkan Prabowo. Lagipula situng bukan jadi pedoman penentuan suara resmi. Penentuan suara ditentukan melalui perhitungan berjenjang. Situng hanya menjadi alat transparansi.

https://www.google.com/amp/m.tribunnews.com/amp/nasional/2019/04/26/mahfud-md-punya-bukti-salah-input-yang-untungkan-01-dan-02-di-tegal-suara-prabowo-54-diinput-854

2. Mereka bilang Jokowi bukanlah sosok yang ditakuti oleh rakyat, karena karier politiknya pas-pasan. Jokowi juga bukan tipe pemimpin yang saat berbicara, rakyat jadi tergetar hatinya.

Fakta: Jika ada yang mengatakan karier politik Jokowi pas-pasan maka kita bisa menilai bahwa orang itu sedang berbicara omong kosong. Kemampuan politik Jokowi justru patut diberi penghargaan karena dia yang bukan elite partai, dia yang hanya kader biasa mampu menjadi walikota Solo dua periode, gubernur DKI, dan presiden RI dua periode. Semuanya dilalui melalui mekanisme pemilihan langsung oleh rakyat. Masih meragukan kelihaian politik Jokowi?

Bandingkan dengan Prabowo yang terlahir sebagai keluarga konglomerat, anak menteri Soeharto yaitu Soemitro, bahkan kini menjadi Ketum Gerindra. Prabowo sejak 2004 sudah mengajukan diri menjadi capres tapi satu setengah dekade berlalu bahkan jabatan walikota atau gubernur saja Prabowo belum pernah meraihnya. Darimana rakyat percaya kalau Prabowo sosok yang ditakuti.

Dan, juga, kalau masih ada yang meragukan kharisma Jokowi saat berpidato, apakah mereka tidak tahu para pemimpin dunia melakukan standing applause (penghargaan tertinggi) sesaat setelah Jokowi memberikan pidato di World Bank Forum.

https://www.google.com/amp/s/m.bisnis.com/amp/read/20181012/9/848554/ini-pidato-lengkap-presiden-jokowi-yang-tuai-pujian-dari-bos-imf-bank-dunia

Prabowo? Kemampuan bicara Prabowo justru dikeluhkan kalangan milenial yang menganggap terlalu emosional dan cenderung seperti orang-orang di pinggir jalan yang marah-marah tanpa memberikan ide atau solusi.

3. Karena menurut mereka Jokowi bukan sosok yang ditakuti, ada sosok lain di belakang Jokowi sehingga mampu membuat KPU berani melakukan kecurangan. Mereka sebutkan seperti ini:

Pertama, Jokowi adalah tumpuan harapan para konglomerat pengisap kekayaan rakyat, termasuk–dan terutama–para konglomerat hitam. Yaitu, para konglomerat rakus yang menjalankan bisnis secara sewenang-wenang di bawah perlindungan orang-orang kuat. Diperkirakan, mereka ini akan “terkencing-kencing” kalau Prabowo yang menjadi presiden. Bagi mereka, Jokowi harus dua periode. Karena mantan walikota Solo itu bisa dikendalikan.

Fakta: Justru para konglomerat hitam dan rakus tidak menginginkan Jokowi melanjutkan kepemimpinannya. Lima tahun Jokowi berkuasa terjadi pemerataan kesejahteraan rakyat melalui sertifikat tanah, dan pengembalian aset Indonesia di luar negeri. Justru para konglomerat ingin sekali Prabowo menang, terbukti dari bergabungnya keluarga Cendana yang bersatu padu ingin memenangkan Prabowo.

https://www.msn.com/id-id/berita/nasional/kantor-partai-tommy-soeharto-disita-aset-cendana-lain-diburu/ar-BBPRRSH

Kedua, RRC ikut dalam barisan yang habis-habis menudukung “wajib dua periode” itu. RRC memiliki mimpi indah untuk “menduduki” Indonesia, baik itu dalam arti pendudukan fisik maupun dalam arti hegemoni ekonomi. Yang sangat jelas adalah Beijing menyimpulkan bahwa ambisi global mereka melalui “jalur sutra gaya baru” (Belt Road Initiative, BRI) hanya mungkin terwujud jika Jokowi duduk lagi sebagai presiden.

Fakta: Justru RRC tidak menyukai Jokowi. Ia dianggap RRC terlalu tegas bertindak menjaga kedaulatan bangsa dengan mengganti nama laut Cina Selatan menjadi Laut Natuna Utara.

https://www.google.com/amp/m.tribunnews.com/amp/nasional/2017/07/17/china-langsung-protes-saat-indonesia-ganti-nama-laut-china-selatan-jadi-laut-natuna-utara

Prabowo justru digandrungi para pengusaha Tionghoa. Mereka pun menginginkan Prabowo bisa menjadi presiden. Capres 02 yang hobi mengoleksi kuda itu pun kali memuji RRC. Mereka pun merogoh koceknya menyumbang biaya kampanye Prabowo.

https://nasional.kompas.com/read/2018/12/08/08100051/16-pengusaha-tionghoa-sumbang-rp-460-juta-untuk-tim-prabowo-sandiaga?page=all

Ketiga, Ada segelintir elite yang mengkampanyekan bahwa Prabowo akan mendirikan negara khilafah. Tudingan ini sama sekali tidak memiliki dasar historis dan empiris. Catatan sejarah prakemerdekaan, masa-masa kemerdekaan, dan pascakemerdekaan menunjukkan bahwa umat Islam tidak pernah menjadi komponen yang egosentris, apalagi “selfish”. Sebaliknya, kaum musliminlah yang selalu dijadikan antagonis (musuh) oleh penguasa dzolim. Ini catatan sejarah. Sampai hari ini.

Fakta: Memang benar Prabowo didukung oleh kelompok fundamentalis, HTI bahkan kelompok pro ISIS. Walaupun Prabowo mantan tentara (yang dipecat karena melanggar sumpah prajurit serta diduga kuat menyerang rakyat Indonesia sendiri dengan menculik aktivis 1998), sulit untuk percaya bahwa Prabowo tidak berada di barisan para pendukung khilafah. Bahkan saat kampanye di Cianjur, Prabowo pun menggunakan mobil donatur ISIS.

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190313124552-32-376845/prabowo-pakai-mobil-eks-donatur-isis-saat-kampanye-di-cianjur

Dan siapa bilang catatan sejarah Republik Indonesia umat Islam tidak pernah menjadi elemen selfish dan egosentris? Ingat pemberontakan NII/DI TII terhadap NKRI? Itu pemberontakan bersenjata mengatasnamakan negara Islam yang dipimpin Kartosoewirjo di beberapa daerah seperti Jabar, Aceh, Kalsel, Sulsel. Daerah yang kebetulan di pilpres 2019 ini Prabowo menang telak.

https://tirto.id/kartosoewirjo-proklamator-negara-islam-indonesia-bXqX

Jadi, sudahlah siapa pun yang mengaku akademisi atau tokoh yang sebenarnya berharap mendapat jabatan jika Prabowo menang tidak usah lagi mencari pembenaran bahwa Prabowo sebenarnya menang dan dicurangi. Faktanya mayoritas rakyat Indonesia tidak menginginkan Prabowo menjadi presiden, itu dibuktikan di kotak suara pada 17 April lalu.

Ingat, suara rakyat adalah suara Tuhan. Apa kalian masih berani terus menerus melawan kedaulatan rakyat? (*)

Jokowi: Perizinan yang Berbelit Hambat Kemajuan Ekonomi

Sebelumnya

Diancam Akan Dipenggal, Jokowi: Sabar, Kita Puasa

Selanjutnya

Tulisan lainnya

Komentar

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tema lainnya: Analisis