HeadlineAnalisis

Pengangguran Kian Berkurang, Jokowi Terus Perkuat Skill Calon Tenaga Kerja

0
Karya Adalah Doa

Jokoway ― Selama empat tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), tingkat pengangguran terbuka semakin berkurang. Bahkan, tingkat pengangguran di tahun ini merupakan angka terendah dalam pemerintahan Jokowi.

Menurut data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 angka pengangguran terbuka sekitar 6,18 persen, lalu pada 2016 turun jadi 5,61 persen, dan di tahun 2017 kembali merosot jadi 5,50 persen.

Sementara, hingga Agustus 2018, tingkat pengangguran terbuka kembali turun menjadi 5,34 persen.

Menurut Kepala PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro, jumlah lapangan kerja Indonesia pada 2018 telah melampaui target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Jumlah tersebut meningkat jadi 2,99 juta dibandingkan 2017.

Dalam rentang 2015-2018, pemerintah telah berhasil menciptakan 9,38 juta lapangan kerja. Secara absolut, jumlah pengangguran juga turun sebesar 40 ribu orang, sehingga tingkat pengangguran terbuka berhasil diturunkan jadi 5,34 persen tahun ini. “Penurunan ini dapat dicapai dengan penciptaan kesempatan kerja sebanyak 2,6-2,9 juta orang, sedangkan lapangan kerja di sektor formal juga banyak menyerap angkatan kerja berpendidikan SMA ke atas,” ungkap Bambang.

Sementara Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri menjelaskan, meski turunnya angka pengangguran sesuai target pemerintah, namun perluasan kesempatan kerja akan terus dilakukan.

Berfokus di perkotaan maupun pedesaan, pemerintah melihat potensi dan pertumbuhan industri manufaktur, pariwisata, makanan dan minuman yang sangat berkontribusi terhadap penyerapan lapangan kerja.

Menariknya, turunnya tingkat pengangguran terbuka ini nyaris terjadi di semua basis pendidikan. Atas dasar itulah, Hanif optimis menatap masa depan Indonesia ke depan. “Kalau tidak, nanti isinya mengeluh dan komplain, seolah-olah tak ada masa depan,” kata Hanif.

Dari tingkat pendidikan, meski pengangguran terbuka pada lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) paling tinggi kontribusinya, namun sejak 2015 tren itu relatif menurun.

Pada 2015, tingkat pengangguran terbuka pendidikan SMK mencapai 12,65 persen. Namun pada 2016 angka tersebut turun menjadi 11,11 persen, dan naik lagi jadi 11,41 persen pada 2017 dan hingga Agustus 2018 turun lagi sebesar 11,24 persen.

Sejumlah problem SDM di angkatan kerja, termasuk lulusan SMK, terus dicarikan jalan keluarnya oleh pemerintahan Jokowi.

Terlebih lagi, jika ditilik profil ketenagakerjaan secara keseluruhan di tahun 2018 juga masih mengalami tantangan.

Dari 131 juta angkatan kerja, misalnya, 58 persen di antaranya adalah lulusan SD/SMP.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah pun terus memperbaiki akses dan mutu pendidikan formal, terutama pendidikan dasar dan menengah.

Selain itu, pemerintah juga memperbaiki akses dan mutu vocational training secara massif. Langkah ini diperlukan untuk mengatasi tiga problem tenaga kerja yakni kualitas, kuantitas dan persebaran tenaga kerja.

Pemagangan dan vocational training, disebutkan Hanif, juga terus diperkuat. Salah satunya yakni melalui kebijakan triple skilling (skilling, upskilling dan re-skilling).

Tenaga kerja yang belum punya keterampilan dapat mengikuti  program skilling agar punya keahlian di bidang tertentu. Bagi tenaga kerja yang telah memiliki skill dan membutuhkan peningkatan akan masuk program upskilling. Sedangkan yang ingin beralih skill dapat masuk ke program reskilling.

Ada pun Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy menuturkan, pihaknya akan membuat perubahan pada kurikulum SMK yang berbasis industri. Dengan demikian nantinya 70 persen kurikulum akan berasal dari industri.

Dengan pola ini, artinya kurikulum akan menjadi industri base. Dalam kegiatan belajar mengajar, 40 persen siswa diarahkan masuk ke sekolah, dan 60 persen masuk ke industri. (SAW)

Sekarang Banyak Cara Berpolitik yang Tidak Beretika

Previous article

Tidurnya Jokowi Kadang di Helikopter

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Headline